Rolang Rolink adalah ruang kumpul santai yang lahir dari kultur jalanan dan rasa ingin belajar bareng di atas roda dua. Acara ini merupakan pra-event dari Djogja Antique Day (DAD) yang diselenggarakan oleh Motor Antique Club Yogyakarta (MAC Yogyakarta), namun dalam perjalanannya Rolang Rolink sudah berkembang jadi lebih dari sekadar pemanasan—ia menjadi titik temu berbagai pengendara tanpa sekat.
Di sini tidak ada batasan soal motor. Tua, baru, kecil, besar, dua tak atau empat tak, semuanya punya tempat yang sama. Yang jadi pembeda bukan jenis kendaraan, tapi cara kita menikmati perjalanan dan energi yang dibawa masing-masing rider. Rolang Rolink berdiri di atas satu nilai sederhana: di jalan, semua orang setara.
Tema “Brum n’ Burn” sendiri lahir dari bahasa yang sangat dekat dengan dunia ini. Brum bukan sekadar suara mesin, tapi tanda bahwa ada banyak arah yang akhirnya bertemu di satu titik. Burn bukan hanya soal api atau gaya, tapi tentang semangat yang terus menyala, yang bikin kita terus jalan tanpa terlalu banyak tanya siapa dan naik apa. Di Rolang Rolink, dua kata ini jadi satu bahasa yang tidak butuh penjelasan—cukup hidupkan mesin, dan semua orang sudah saling paham.
Sejak pertama kali digelar, Rolang Rolink sudah menjejak beberapa titik di Yogyakarta. Tahun 2024 di Djagongan Space Seturan, lalu berlanjut 2025 di Taman Budaya Embung Giwangan, dan tahun 2026 ini dimulai dari Balai Kota Yogyakarta menuju finish di Lodji Paris. Setiap tahun bukan hanya soal pindah lokasi, tapi juga tentang bagaimana energi dan kebersamaan itu terus tumbuh dan berkembang.
Pada akhirnya, Rolang Rolink #3 bukan tentang siapa yang paling cepat atau paling menonjol, tapi tentang bagaimana setiap orang bisa menikmati perjalanan dengan cara yang sama. Dari Balai Kota sampai Lodji Paris, ini adalah perjalanan yang menyatukan banyak suara mesin menjadi satu cerita yang sama: Brum n’ Burn.





















