Thailand akhir pekan lalu bukan hanya soal balapan, tapi tentang bagaimana sebuah cerita terbentuk dalam dua hari yang berbeda. Di ajang FMSCT Thailand Motocross 2026 yang berlangsung di Nakhon Si Thammarat, nama M. Zidane perlahan berubah dari sekadar peserta menjadi pusat perhatian.
Semua dimulai di hari pertama. Tanpa banyak sorotan, Zidane langsung menunjukkan intensitas sejak gate terbuka. Ia tidak butuh waktu lama untuk masuk ke ritme balapan, bahkan langsung terlibat duel dengan Gibbs Kirk William. Dalam beberapa lap awal, ia sempat memimpin, memperlihatkan bahwa kehadirannya bukan sekadar melengkapi grid. Di lintasan yang teknis dan menuntut konsentrasi tinggi, Zidane tampil tenang—mengalir, minim kesalahan, dan tahu kapan harus menekan.
Saat akhirnya finis di posisi kedua, hasil itu terasa lebih besar dari sekadar podium. Ia berhasil mengungguli Jiraj Wannalak, juara bertahan sekaligus andalan tuan rumah yang selama ini sulit disentuh pembalap Asia lainnya. Di titik itu, balapan berubah menjadi pernyataan—bahwa ada nama baru yang mulai mengganggu dominasi.
Zidane sendiri mengakui balapan tersebut bukan tanpa tekanan, namun ia memilih fokus pada konsistensi.
“Balapan hari ini cukup berat, terutama karena persaingan di depan sangat ketat. Saya mencoba menjaga konsistensi dan memanfaatkan setiap peluang yang ada. Hasil ini tentu menjadi motivasi besar untuk tampil lebih baik di race berikutnya,” ujarnya.
Momentum itu terbawa ke hari berikutnya, tapi dengan cerita yang berbeda. Di Round 5, Zidane kembali tampil agresif sejak awal dan langsung mengamankan holeshot. Ia memimpin jalannya balapan dengan ritme yang tetap terjaga, seolah melanjutkan apa yang sudah ia bangun sehari sebelumnya. Hingga garis finis, ia kembali mengamankan posisi kedua—sebuah konsistensi yang seharusnya jadi penutup sempurna.
Namun balapan kali ini tidak benar-benar berakhir di garis finis. Penalti 30 detik dijatuhkan setelah race usai, mengacu pada dugaan pelanggaran saat bendera kuning. Keputusan itu langsung mengubah hasil, memaksanya turun ke posisi ketiga. Tanpa bukti visual yang benar-benar tegas, situasi ini menyisakan ruang tanda tanya, tapi juga menunjukkan satu hal yang sering terjadi di dunia balap: tidak semua hasil ditentukan murni di lintasan.
Zidane tidak menutupi rasa kecewanya, namun tetap melihat sisi positif dari performanya.
“Tentu ada rasa kecewa, tapi itu bagian dari balapan. Yang terpenting, saya tahu kemajuan saya dan tim sangat positif. Hasil ini tidak mudah diterima, tapi saya tidak akan berhenti di sini,” ungkapnya.
Di tengah situasi tersebut, Ducati MX Team Indonesia memilih tetap tenang. Bagi tim, performa yang ditunjukkan sepanjang akhir pekan jauh lebih penting dari hasil akhir yang berubah karena penalti. Bahkan, mereka melihat ini sebagai bagian dari proses membangun kekuatan tim ke depan.
Hal itu juga ditegaskan oleh Jimmy Budhijanto.
“Performa Zidane sepanjang akhir pekan ini sangat positif, apalagi ini salah satu pengalaman awalnya bersama Ducati. Meskipun harus turun posisi akibat penalti, bagi kami Zidane tetap menunjukkan kualitasnya. Ini akan jadi bahan evaluasi untuk tampil lebih kuat di balapan berikutnya,” jelasnya.
Adaptasi Zidane bersama Ducati Desmo450 MX pun mulai terlihat semakin solid. Tidak lagi sekadar proses mencoba, tapi sudah mengarah pada hubungan yang lebih matang antara rider dan mesin. Dua podium dalam satu akhir pekan, dengan dua cerita yang berbeda, justru memperlihatkan spektrum kemampuannya secara utuh.
Dari Thailand, Zidane mungkin tidak pulang dengan hasil yang sepenuhnya sempurna. Tapi ia membawa sesuatu yang lebih penting—pengakuan. Ia bukan lagi nama yang lewat begitu saja, melainkan pembalap yang mulai diperhitungkan setiap kali gate terbuka.
Dan jika ada satu hal yang bisa ditarik dari dua hari itu, mungkin ini: perjalanan seorang pembalap tidak selalu ditentukan oleh hasil akhir, tapi oleh bagaimana ia terus muncul, menekan, dan perlahan mengubah arah cerita.
Zidane sudah memulainya. Dan cerita ini jelas belum selesai..






h










